Halojambinews : Pasar Muara Tembesi yang disematkan sebagai Kota Tua Bersejarah, sarat akan bangunan-bangunan warisan penjajah Belanda. Di antaranya, Benteng Belanda, Kantor Wedana, Penjara Belanda, Rumah Demang, Kantor Pos, Kantor PU, Kantor Kejaksaan, serta Kantor Polisi.
Kondisi sekarang dari bangunan-bangunan tersebut, sangat menyedihkan. Benteng Belanda sekarang hanya tersisa dinding yang lapuk dan tiang-tiang pintu maupun jendela yang mulai rapuh. Kantor Wedana sudah berubah bentuk menjadi kantor lurah, malahan mengilangkan nilai historinya.
Kantor Kejaksaan sudah berganti menjadi beberapa warung yang ditempati warga, Kantor Pos yang tinggall hanya satu tiang pondasi saja. Namun, masih ada bangunan-bangunan tersebut, yang masih bisa diselamatkan.
Seperti, Kantor PU beserta rumah dinas Kepala PU, Rumah Demang, maupun Kantor Polisi. Hal ini disampaikan oleh M. Cik Tamin (75), warga RT 02 RW 1 Kelurahan Pasar Muara Tembesi, Senin siang (19/06/2023).
" Semua bangunan bersejarah tersebut, kalaulah pemerintah peduli, pasti tidak akan seperti kondisi sekarang ini. Ibarat kata, terlupakan," ujar Cik Tamin.
Dikatakan Cik Tamin lagi, banyak masyarakat kalau ditanya tentang sejarah Pasar Muara Tembesi, mereka hanya menyebut, Benteng Belanda saja. Peninggalan-peninggalan lain yang merupakan aset berharga, tenggelam akan kebesaran akan sejarah Benteng Belanda tersebut.
" Mereka tahu, cuma Benteng Belanda saja. Padahal sejarah Kepolisian di sini termasuk yang sangat penting. Kantor Polisi, yang sekarang dipergunakan sebagai Kantor LPM Kelurahan Pasar Muara Tembesi, pada 1949 silam, konon, pernah menjadi tempat penyerahan kedaulatan Belanda untuk Jambi setelah Agresi Miiter Ke-II Belanda. Waktu itu dihadiri Wakil Presiden RI Dr. Moch. Hatta dan Letkol Abunjani," ucapnya.
Pasca itu, sambung Cik Tamin, Kantor Polisi yang sebelumnya dikepalai oleh Inspektur Belanda, kemudian dipimpin oleh Komandan Polisi Distrik (Kopendis).
" Pada zaman sebelum kemerdekaan dulu, Kantor Polisi yang acap kali disebut masyarakat sebagai Kantor Opas, dan yang menjadi kepalanya polisi Belanda berpangkat inspentur, kalau ndak salah, kemudian selanjutnya dipimpin oleh Kepolisian Indonesia disebut Kopendis. Di samping menjadi kantor, juga sekaligus sebagai gudang senjata," jelasnya lagi.
Cik Tamin yang ternyata adalah pensiunan muda polisi ini pada pertengahan 1970 silam, menambahkan bahwa selain kantor polisi, ada juga rumah dinas komandan, rumah dinas wakil komandan serta beberapa asrama.
" Kantor Polisi, rumah dinas kepala polisi, rumah dinas wakil kepala polisi serta beberapa asrama, semuanya terletak di RT 01. Rumdis kepala polisi, dibangun Belanda di atas tanah margo. Posisinya di depan bekas Rumah Dinas Kepala PU yang pernah ditempati Almarhum Datuk Bachtiar. Sekarang, keadaannya sudah rusak parah. Pernah juga ditempati oleh seorang pesirah, setelah kantor polisi pindah ke Kampung Baru pada akhir 1970-an dulu. Setelah pesirah tersebut meninggal, rumah dinas tersebut tidak ada lagi yang menempati sampai sekarang," imbuh Cik Tamin yang sekarang menjadi Ketua RW 01.
Untuk rumah dinas wakil komandan polisi, serta asrama polisi, letaknya berada di pinggir Sungai Batang Hari. ' Rumah dinas wakil komandan polisi dan salah satu asrama, letaknya sekarang persis di pinggiran Sungai Batang Hari. Dulu, sebelum banjir besar pada tahun 1955, di depan rumdis tersebut, berdiri sebuah mesjid. Asrama polisi, posisinya persis berada di samping mesjid tersebut. Karena banjir, mesjid serta asrama tersebut rubuh karena longsor dan tenggelam di Sungai Batang Hari. Saya masih ingat, di samping rumdis tersebut, ada gudang garam milik pedagang cina. Rumah dinas wakil komandan polisi tersebut, ada beberapa ruangan termasuk dapur. Di halaman sebelah kiri, ada sebuah bak air yang masih kokoh sampai sekarang. Kondisi rumah itu sekarang, yang berbentuk rumah panggung, cuma lantai papan teras yang sudah banyak lapuk termakan usia, termasuk beberapa tiang penyangga rumah," papar Cik Tamin seraya tersenyum.
Ketika ditanyakan, bagaimana jejak dan nasib asrama polisi lainnya, pria yang masih kekar namun rambut sudah ubanan ini, masih ada. " Asrama polisi yang satu lagi, sekarang sudah menjadi pasar los. Akan tetapi, tiang beton penyangga serta tiang-tiang atapnya, masih kokoh. Dan itu termasuk atapnya. Asrama empat pintu itu, dibangun Pemerintah Kabupaten Batang Hari pada sekitar 2015 nan lalu. Saya pribadi berterimakasih kepada pemerintah, walaupun sudah dibangun menjadi pasar los, namun tidak merubah bentuk asli dan nilai sejarahnya itu sendiri," terang Cik Tamin, mengakhiri.
Sementara itu, Via Dicky, seorang Peneliti Sejarah Jambi, ketika dihubungi via posel setelah konfirmasi dengan M. Cik Tamin, menyebut bahwasanya Pemerintah Indonesia melakukan salah satu upaya perlindungan terhadap peninggalan bersejarah melalui Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
" Perlindungan itu dilakukan karena cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa, sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia. Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa leluhurnya dalam menorehkan sejarah itu sendiri. Khususnya, peninggalan yang ada di Pasar Muara Tembesi yang merupakan bangunan-bangunan warisan kolonial, seperti, gedung kantor polisi, asrama dan lain-lain." kata Via Dicky. Sambungnya, peninggalan tersebut memang sangat perlu diperhatikan dalam hal upaya pemeliharaan situs bangunan bersejarah.
" Hal ini adalah upaya kita menjaganya tetap lestari dan sebagai pelajaran bagi generasi muda sekarang dan nantinya. Semoga Pemerintah Kabupaten Batanghari beserta unsur muspida dapat melakukan pemugaran dan rehabilitasi daripada gedung-gedung bersejarah di Kota Tua tersebut," harap Via Dicky.
Ketika dikonfirmasikan tentang bangunan bersejarah kepolisian ini melalui ponsel kepada Wakapolres Batang Hari Kompol M. Ridha, S.KPM, MM, Senin malamnya, mendapat tanggapan dan respon positif.
" Terima kasih atas informasinya. Kami pihal Polres Batang Hari, akan mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah kepololisian tersebut, besok pagi" tutur Wakapolres. Selasa pagi (20/06/2023),
Kapolres Batang Hari AKBP Bambang Purwanto, S.I.K dan Wakapolres Kompol M. Ridha, S.KPM, MM beserta para kasat dan kabag, didampingi Kapolsek Muara Tembesi dan Bhabinkantibmas, meninjau langsung bangunan bersejarah cikal bakal Polri tersebut.
" Saya beserta Wakapolres beserta pihak Polres Batang Hari mengucapkan terima kasih kepada penulis yang sudah membuka mata kami, sehingga datang berkunjung kemari. Sebagai Polri dan juga selaku bangsa yang besar peduli akan sejarah, kami akan mendata serta mendokumentasikan bangunan-bangunan sejarah kepolisian ini, untuk dapat direvitalisasikan dalam waktu dekat, sehingga ke depannya bisa dilestarikan, baik untuk masyarakat, anak cucu kita maupun insan polisi lainnya," beber Kapolres.
Sosok berpangkat dua melati emas ini, menambahkan, momen kunjungan ini sekaligus merupakan giat dalam rangka HUT Bhayangkara Ke-77.
" Alhamdulillah, di samping kami dapat mengenal bangunan bersejarah awal mulanya Institusi Polri, kami juga datang dalam rangka giat HUT Bhayangkara Ke-77, dimana kami melaksanakan Revitalisasi Benteng Belanda serta Makam Keramat Benteng yang persis berada di samping aset sejarah tersebut. Puncak acara pada Selasa 27 Juni 2023 nanti, yaitu Kegiatan Revitalisasi Kebudayaan dan Keagamaan Dalam Rangka HUT Bhayangkara Ke-77 Polri Presisi Untuk Negeri, Pemilu Damai Menuju Indonesia Maju," pungkas Kapolres.(fri)