Jambi - Energi listrik merupakan energi yang sangat fital dalam menunjang pembangunan daerah. Hampir semua segi kehidupan membutuhkan energi listrik dalam pelaksanaannya, untuk itulah daerah-daerah yang masih belum terjangkau oleh pasokan energi listrik dari Perusahaan Listrik Negara sangat membutuhkan energi listrik.
Krisis Energi Nasional mengakibatkan pemenuhan akan kebutuhan energi listrik ke daerah menjadi terhambat. Untuk memenuhi kebutuhan sambungan yang sudah ada saja Perusahaan Listrik Negara masih mengalami kekurangan. Dengan mempertimbangkan kondisi diatas, perlu dilakukan upaya pemenuhan energi listrik yang dilakukan secara mandiri, tanpa bergantung kepada pasokan energi listrik dari Perusahaan Listrik Negara.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), merupakan pembangkit listrik sekala kecil yang dapat dikelola oleh kelompok masyarakat / swasta, dengan biaya pembangunan yang relatif murah dan mudah dalam pengoperasian dan perawatan, bisa dijadikan alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di daerah-daerah yang masih belum terjangkau oleh pasokan energi listrik dari Perusahaan Listrik Negara.
Sehubungan dengan pengembangan usaha pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya PLTMH, UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Indonesia melakukan program Pekerjaan Pembangunan PLTMH Desa Lubuk Bangkar Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.

Rusli, warga Dusun Simpang Desa Lubuk Bangkar sangat terbantu dengan adanya PLTMH ini. Sebab, sejak puluhan tahun lalu pada malam hari Rusli bersama keluarga hanya bermodalkan lilin untuk menerangi rumahnya.
Kini ia sangat bersyukur karena Pemerintah mengambil langkah alternative untuk kampungnya dengan adanya PLTMH tersebut.
Betapa tidak, ke kampungnya ini butuh waktu berjam-jam dari Pusat Kota Sarolangun dengan jalanan yang buruk, terjal dan berbukit. Kendaraan roda empat pun bahkan sangat sulit menjangkau kampung mereka.
“Alhamdulillah sekarang rumah kami sudah terang dengan listrik sama seperti di Desa lainnya, kami sudah sangat lama menantikan ini,” ujarnya.
Hal ini juga dirasakan oleh Mastiya, yang biasanya membuat bumbu dapur hanya bisa digunakan memakai alat tradisional, dengan adanya PLTMH ini memudahkan untuk memasak salah satunya seperti menanak nasi yang tinggal dicolok saja.
“Saat ini dengan adanya listrik ingin apapun terasa lebih mudah dan tidak repot. Apalagi saat malam hari tidak khawatir lagi dengan lilin yang sangat beresiko bisa terbakar,” sebutnya.
Penerima Manfaat PLTMH
Kabid Energi Dinas ESDM Provinsi Jambi, Pandu mengatakan Tujuan Pembangunan PLTMH Lubuk Bangkar adalah untuk memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat perdesaan yang berkualitas baik, sehingga dapat mendorong berbagai usaha produktif.
Adapun pihaknya melakukan pembangunan PLTMH meliputi : fasilitas bangunan sipil, perlengkapan peralatan elektro-mekanik, jaringan transmisi-distribusi, sambungan rumah dan instalasi rumah serta Pelatihan Operator.
Secara administrasi, lokasi kegiatan ini berada di Desa Lubuk Bangkar Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.
Jarak lokasi dari Desa Lubuk Bangkar ±2 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1/2 jam melalui jalan darat.
“Jalan umum yang ada berupa jalan tanah dan menyebrang sungai. Belum terdapat angkutan umum regular yang menghubungkan lokasi kegiatan dengan desa sekitar sehingga sulit mendapatkan listrik,” ujarnya.
PLTMH Lubuk Bangkar ini dibangun pada tahun 2018 -2019 dengan total anggaran Rp 2.601.254.290,- menggunakan dana zakat yang dikelola oleh Baznas dan program Corporate Social Responbility (CSR) dari Bank Jambi.
PLTMH ini kemudian mulai dioperasikan pada tahun 2020 hingga 2022 dan pada 26 Mei 2023 PLTMH Lubuk Bangkar ini diresmikan.
Adapun Sistem jaringan PLTMH Lubuk Bangkar ini menggunakan tegangan rendah dengan tegangan 220 V/380 V dengan kapasitas pembangkit 60 Kw. Untuk mencapai kondisi tersebut, maka digunakan kabel Twisted Al 3 x 50 + N 1 x 35 dan kabel Twisted Al 3 x 35 + N 1 x 25 mm2, Kabel koneksi ke konsumen menggunakan Twisted Al 2 x 10 mm2.
Kemudian, Setiap sambungan rumah menggunakan pembatas arus 2 A untuk membatasi penggunaan beban berlebih. Untuk instalasi rumah digunakan kabel NYM 2 x 1,5 mm2 dan NYM 3 x 1,5 mm2. Setiap intalasi rumah dilengkapi 2 fitting lampu, 3 lampu, 1 saklar double, 1 saklar tunggal, dan 1 stop kontak.
“Penerima manfaat dari PLTH Lubuk Bangkar ini sebanyak 283 rumah tangga, 2 sekolah, 5 masjid dan mushola, 1 balai Desa dan 5 gardu atau posyandu,” Sebut Pandu.
Sementara itu, Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR mengatakan kepemimpinan yang kuat di tingkat daerah akan mampu memobilisasi masyarakat untuk melakukan transisi energi gotong royong.
Menurutnya, inisiatif dan kepemimpinan pemerintah daerah akan mampu menjawab permasalahan akses dan keamanan pasokan energi dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang melimpah di daerahnya.
“Transisi energi Indonesia membutuhkan pembangunan ratusan bahkan ribuan gigawatt, pembangkit energi terbarukan, infrastruktur transmisi dan distribusi serta sistem penyimpanan energi. Tapi dengan mulai membaginya menjadi unit-unit kecil, persoalan yang besar tadi dapat lebih mudah dipecahkan dan dilakukan oleh lebih banyak pihak,” ungkap Fabby.
Menurutnya, berdasarkan kajian IESR, dekarbonisasi sistem energi di Indonesia membutuhkan biaya USD 1,3 triliun hingga 2050 mendatang, dengan rata-rata kebutuhan investasi USD 30-50 miliar per tahun. Jumlah ini 150%-200% dari total investasi seluruh sektor energi saat ini.
“Kebutuhan investasi ini tidak sedikit dan tidak mungkin hanya ditanggung oleh pemerintah dan BUMN semata. Tapi investasi yang besar ini dapat dipenuhi jika kita memperhitungkan potensi dari kontribusi dan daya inovasi masyarakat serta kemampuan pemerintah daerah. Kontribusi dan inovasi warga dapat memobilisasi pendanaan dari pemerintah, pemerintah daerah dan pemerintah desa, serta pendanaan dari swasta dan lembaga-lembaga non-pemerintah,”tandasnya.