Janbi - Hawa panas membara diantara kobaran cahaya merah menyala membakar dan menghanguskan, mereka demi tugas dan tanggungjawab terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan di sekitar, kelompok penakluk api itu bekerja di antara bahaya menghadang dan mengancam keselamatan mereka sendiri. Namun tidak surut semangat yang menyala seperti kobaran api itu, mereka tidak ingin berhenti melaksanakan tugas sebelum meredakan kebakaran yang terjadi.
Menggeluti tugas yang berkaitan dengan kegiatan pemadaman kebakaran lahan dan hutan bukanlah hal yang mudah namun penuh tantangan dan cabaran dengan mempertaruhkan nyawa. Lokasi yang berat ditengah hutan belantara sekalipun bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai bagi regu yang terlatih, seperti apa yang dilakukan oleh Tim Manggala Agni DAOPS Kabupaten Siak berpuluh-puluh kali dalam setahun “menenggelamkan diri di tengah kobaran api, guna melaksanakan amanah dari tugas dan kewajiban yang diemban selaku anggota Manggala Agni, siap hadapi tantangan berat agar selamatnya lingkungan hidup dari bencana kebakaran.
Sutrisno dan timnya selaku regu pemadam api malam itu di suatu waktu di tahun 2014 lalu, meninggalkan rumah dan keluarga mereka memenuhi panggilan tugas yang menanti, kebakaran besar di suatu lahan tanaman sawit milik masyarakat di Desa Dosan Kecamatan Pusako Kabupaten Siak menjadi tanggungjawab mereka untuk terjun di lapangan, mencari lokasi titik api. Bagi Sutrisno yang bergabung dalam kesatuan Tim Manggala Agni DAOPS Kabupaten Siak Provinsi Riau sejak tahun 2009 itu tantangan berat yang dialami dalam melaksanakan tugas adalah bagian dari warna hidupnya yang harus dilalui ketika memutuskan diri menjadi anggota Manggala Agni.” Pengalaman saya di tahun 2014 lalu saat berada di tengah lahan sawit yang terbakar, kami memadamkan api dari pagi hingga sore dan berlanjut malam hari, hingga tubuh kami yang letih tidak menjadi halangan untuk malam itu kembali melaksanakan tugas karena api yang “membandel” belum bisa kami taklukkan dalam satu kali putaran kerja pemadaman yang kami lakukan, berpuluh-puluh hektar kebun sawit masyarakat terpaksa hangus terbakar akibat api yang “menyalak”, kami tim berupaya semampu kami agar tidak lagi bertambah luasan kebun sawit yang terbakar, kami bahkan hampir lupa pada keselamatan kami, tanpa kami sadari malam itu ternyata ada bahaya yang mengancam kami,” ujar Sutrisno, terlihat matanya menerawang, pikirannya tertuju pada pengalamannya yang mencekam lima tahun silam itu.
Api yang membara, menjilati setiap jengkal tanah dan pohon-pohon sawit dan serta semua tumbuhan di tengah malam itu bukanlah hal yang menakutkan bagi Sutrisno dan timnya untuk dijinakkan, mereka masih terus berjuang dalam menghadapi tantangan berat alam yang garang, namun terkadang sisi-sisi kemanusiaan sedang diuji dalam menabur semangat pantang pulang sebelum api padam, kondisi malam yang gulita hanya terdengar deru mesin pemadaman yang menyemperotkan air, tiba-tiba langkah mereka terhenti dua pasang bola mata tengah menyorot tajam ke arah mereka, tim tangguh penakluk api itu tak menyadari makhluk pemilik bola mata itu adalah hewan buas.” Malam itu ternyata kami berjumpa harimau, tepatnya anak harimau dua ekor, saat senter kami diarahkan keobjek yang mencurigakan itu, terlihat makhluk belang-belang, ketika itu Danru (Komandan Regu) kami Pak Mulyadi tengah mengawasi mesin pemadam, namun saya dan anggota tim hanya berdiam diri tidak melanjutkan gerakkan yang dapat menimbulkan kepanikan padahal dari kejauhan diselah-selah batang sawit yang belum terbakar ada induknya disana, kami satu tim tetap ditempat, disebelah ujung kami ada semak belukar mungkin bisa menjadi tempat berlindung,” ungkap Sutrisno.
Pengalaman yang mencekam ini masih terekam jelas di benak Sutrisno dan kawan-kawannya berhadapan dengan hewan buas yang menakutkan namun diluar nalar harimau tersebut pergi tanpa mengusik mereka.”Harimaunya (induknya) kemudian pergi mengikuti langkah anak-anaknya tanpa bersuara kami menyaksikan ini dalam satu loncatan tubuh harimau menghilau dikegelapan malam, kehadiran kami tidak memancing naluri buas mereka untuk menyerang kami, Alhamdulillah kami selamat, harimau itu seperti memahami keberadaan kami namun tak ingin menyerang, sehingga kami melaksanakan tugas malam itu tetap dalam keadaan selamat, hingga api berhasil kami padamkan, ” ucap lelaki kelahiran Siak 31 tahun silam itu.
Menguatkan cerita Sutrisno tentang pengalamannya mencekam yang menyurutkan nyali ketika bertemu sang raja hutan, Komandan Regu Manggala Agni DAOPS Kabupaten Siak, Riau Mulyadi yang juga turut menyaksikan keberadaan harimau tersebut, mengungkapkan bahwa dirinya melihat langsung anak-anak harimau dari jarak yang cukup dekat (dua meter) meloncat-loncat seolah bermain di tengah pijaran api. “ Saya lagi memantau mesin disebelah kiri Sutrisno dan kawan-kawan ada perbatasan hutan akasia, ketika itu sekitar pukul 23.00 Wib, sebenarnya yang pertama kali lihat adalah anak-anak harimau (masih kecil) tengah melompat-lompat dan berguling-guling, jarak dengan kami sekitar dua meter, usianya diperkirakan lima bulan tubuhnya sebesar tubuh anjing dewasa, lalu induknya datang melompat dari arah kanal (parit kecil) yang terdapat di areal tempat kami berada, harimau induk ini bergabung dengan anak-anaknya tidak mengeluarkan auman yang membuat kami ngeri, namun hanya terdengar suara mirip suara kucing, kami tetap siaga tidak boleh bergerak sendiri-sendiri harus bedampingan satu sama lain. Syukurlah akhirnya harimau itu pergi tanpa terpancing dengan keberadaan kami yang tidak jauh dari mereka,” tutur Mulyadi.
Selaku Komandan Regu menurut Mulyadi dirinya disituasi yang mencekam dan mengerikan karena bertemu si raja rimba tersebut tidak boleh memperlihatkan kepanikan sedikitpun agar semangat tim tetap stabil.” Saya selalu ingatkan pada anggota regu agar dalam setiap siatuasi hendaknya selalu bersama, harus tetap solid dan kompak sehingga diantara kami tidak boleh melakukan tindakan sendiri-sendiri, jika ada yang pergi memasang selang ke kanal itu harus berdampingan dengan yang lainnya atau apapun yang dilakukan harus bersama sebab jika terjadi sesuatu diluar kendali dapat saling membantu, kami tidak trauma dengan kejadian bertemu harimau, tugas kami di medan yang berat menjadi tanggungjawab yang kami emban sebaik-baiknya terlaksana dengan penuh dedikasi,” kata pria “penakluk api” dari Kabupaten Siak ini.
Pekerjaan menjinakkan api menurut Mulyadi bukanlah pekerjaan biasa namun membutuhkan keberanian dan dedikasi yang tinggi terhadap tugas yang diemban, sehingga selaku anggota Manggala Agni dirinya dan tim adalah orang-orang yang tangguh dan berjiwa satria, bertarung melawan api jika salah langkah nyawa taruhan sehingga para penakluk api adalah mereka yang berkomitmen mulia dalam mencegah bencana lingkungan dengan terus bekerja saat tugas memanggil, siaga setiap waktu. (ifa)di